Selasa, 26 Mei 2009

HARI KEAGAMAAN MEMBANGUN KERUKUNAN

Sam vo manaamsi sam vrataa.
Sam aakuutir namaamasi.
Amii ye vivrataa sthana.
Taan vah sam namayaamsi.
(Atharvaveda III 8.5)

Maksudnya:
Aku menyatukan pikiran-pikiranmu, gagasan-gagasanmu dan tindakan-tindakanmu. Kami mengantarkan para pelaku kejahatan menuju jalan yang benar.

SETELAH ledakan bom di Kuta 12 Oktober 2002 terdapat banyak hari raya keagamaan yang perayaannya sangat berdekatan. Bulan November 2002 umat Hindu merayakan Galungan dan Kuningan yakni 20 dan 30 November 2002. Belum beberapa lama yakni tanggal 6 dan 7 Desember umat Islam merayakan hari raya Idul Fitri. Dalam bulan Desember juga tanggal 25 dan 26 umat Kristiani merayakan hari raya Natal. Umumnya semua hari raya keagamaan itu memiliki makna kesucian sesuai dengan ajaran agama tersebut.

Salah satu makna kesucian itu adalah melakukan introspeksi. Sejauh mana perjalanan hidup kita ini. Sejauh mana pula kita melakukan ajaran suci keagamaan itu dengan sebaik-baiknya. Demikian pula sejauh mana kita telah melakukan perbaikan-perbaikan dalam hidup kebersamaan kita di dunia ini. Apakah sudah kita melakukan upaya-upaya mulia secara bersama di dunia ini dalam membangun kehidupan bersama yang kondusif.

Manusia diciptakan Tuhan dalam keadaan yang sama dan berbeda-beda. Meskipun semua manusia memiliki badan jasmani, tetapi keberadaan badan jasmani itu berbeda-beda satu sama lainnya. Demikian juga rohani. Semua manusia memiliki rohani, tetapi keadaan rohaninya juga berbeda-beda. Karena itu, Mantra Atharvaveda yang dikutip di atas ini mengajarkan agar umat manusia terus berupaya menyatukan pikirannya, gagasannya dan tindakannya.

Melalui hari raya keagamaan itu setiap kelompok umat beragama menjadikan hari raya keagamaan itu sebagai momentum untuk mengembangkan pikiran, gagasan dan langkah untuk membangun kebersamaan yang sejati. Akan sangat baik sekali kalau dapat dihindari merayakan keagamaan dengan cara-cara yang bersifat eksklusif. Kesucian dan keluhuran ajaran agama yang kita anut jangan dijadikan sumber pendorong untuk memunculkan sikap eksklusivisme.

Sikap eksklusivisme akan mudah mendatangkan kesan sepertinya merendahkan yang lain. Kalau pihak lain memiliki kesempatan maka akan membalas dengan sikap eksklusivisme. Tentunya mereka yang menonjolkan sikap eksklusivisme itu adalah mereka yang umumnya mudah terpancing karena lemahnya daya tahan mental. Karena itu, kesucian dan keluhuran ajaran agama yang diyakini itu jangan dijadikan ajang untuk pamer kelebihan.

Jadikanlah kesucian dan keluhuran ajaran agama yang diyakini sebagai kekuatan untuk meningkatkan spiritualitas diri, meningkatkan loyalitas dan untuk disinergikan pada berbagai aspek kehidupan. Peningkatan spiritualitas diri itu akan membawa tranformasi diri ke arah yang makin baik. Dalam hubungannya dengan di luar diri dalam kehidupan bersama akan menumbuhkan loyalitas pada berbagai perbedaan sebagai hal yang kodrati.

Kesucian dan keluhuran ajaran agama yang dianut itu seyogianya dijadikan unsur yang sangat potensial untuk mengatasi berbagai persoalan hidup yang dihadapi oleh umat manusia. Persoalan hidup itu ada yang bersifat individual ada juga yang bersifat sosial. Kesucian dan keluhuran ajaran agama yang diyakini itu jangan disalahgunakan untuk bersombong ria dengan menganggap agama orang lain lebih jelek.

Mereka yang menjadi sombong karena agama yang dianutnya umumnya disebabkan tidak menghayati agama yang dianutnya secara utuh. Atau pemimpin yang menginformasikan ajaran agama kepada umatnya tidak jujur atau salah menafsirkan kesucian dan keluhuran ajaran agama yang diyakinkan itu. Kalau eksklusivisme beragama dapat diredam melalui momentum hari raya keagamaan maka seluruh pemeluk agama akan dapat mempertemukan pikiran-pikiran dan gagasan-gagasannya yang mulia.

Dari pertemuan tersebut akan dapat ditetapkan langkah bersama membangun hidup yang harmonis namun tetap dinamis mengatasi dinamika zaman sesuai dengan irama kehidupan ini. Kalau eksklusivisme beragama dapat diatasi bersama-sama secara jujur maka anasir-anasir kekerasan yang mungkin ada di setiap umat beragama dapat diredam. Salah satu media untuk meredam anasir-anasir kekerasan itu agar jangan menjadi terorisme adalah lewat hari raya keagamaan. Kalau tetap hari raya keagamaan dijadikan media untuk menonjolkan eksklusivisme maka bibit-bibit kekerasan itu dapat saja muncul menjadi sikap terorisme yang memakai kedok agama.



* I Ketut Gobyah

sumber: BaliPost

Tidak ada komentar:

Posting Komentar